Pages

Sunday, June 28, 2020

Seuntai Syukur || catatan kecilku


Seuntai Syukur

Setelah perjalanan panjang ini
Yang berteman pahit gelombang
Merawat sabar dengan tabah
Berbulan bulan terpenjara
Waktu terus berdetik
Lafadz doa tak henti berdendang
Tuhan Maha baik tunjukkan kuasa

Seuntai syukur
Padanya, sang pencipta
Atas pemberian kehidupan kedua
Aku kembali mengecap riuh riuh alam
Mataku tak absen menatap lalu lalang manusia di bertelapak aspal nan panas itu
nyanyian mesin mesinberbagai merk ikut kunikmati
tuhan,,,
terimakasih segala nikmatmu hari ini
terimakasih atas kekuatan mu
terimakasih atas izinmu aku bangkit
terimakasih Tuhan

Baraka, 25.06.20

Monday, June 22, 2020

Pagi dan Butiran Hujan


pagi ini hujan kembali turun, menyiram tanah. Hujan yang turun di pagi hari seakan menghipnotis sebagian orang untuk tetap tinggal dirumah, mungkin ada yang enggan keluar dari kamar tidurnya atau ada yang bahkan enggan melepas selimut yang masih melilit di badannya. Hujan di pagi hari sungguh nikmat jika di syukuri, bukankah begitu??. hujan, pagi dan kopi adalah suasana paling nikmat, apalagi bagi pecinta kopi.

Aku kagum pada kesejukan yang disuguhkan oleh hujan pada pagi hari,  setelah pepohonan dan rerumputan yang kemarin gersang terbakar mentari saat hujan turun mereka kembali hijau dan menentramkan setiap jiwa yang menikmatinya. Kedatangan hujan akan disambut bahagia oleh hati yang sedang layu, berjuta buliran bening akan menyiram sehingga hati yang layu kembali mekar.

Meski banyak orang yang menganggap hujan sebagai penghalang dari segala rencana yang mungkin setelah subuh semuanya telah dibuatkan jadwal aktivitas, namun semuaberantakan karena hujan.. hujan seakan memegang kendali besar atas apa yang hendak dilakukan oleh manusia. Bahkan ada yang sampai mengeluh dan merasa sangat terganggu dengan turunnya hujan. Apalagi bagi mereka yang punya tugas dikantor.
Bagiku  hujan yang turun dipagi hari adalah sebuah nikmat yang harus kita syukuri. Bukankah begitu??. kita dapat belajar banyak hal dari hujan dipagi hari.
Ia mengajarkan kita untuk lebih sabar, belajar bersabar dalam segala hal, mengajarkan kita agar tidak terburu-buru, ia mengajarkan kita agar sedikit meluangkan waktu untuk sekedar mengingat dan memuji sang pencipta alam semesta atas nikmat hujan yang turun dipagi hari. Hujanpun mengjarkan kita untuk rehat sejenak dari pekerjaan menunda untuk keluar dari rumah, sekedar menyaksikan butiran butirannya yang hinggap disegala dedaunan sebelum jatuh ke tanah.
Aku tak pernah berhenti mengagumi setiap butiran bening dari langit itu, dialah membasuh segala luka yang pernah menggores sekujur batinku, aku tak pernah berhenti menikmati setiap kesejukan yang ia hadirkan. Hujan,, yang selalu tawarkan kedamaian mekarkan semangat dipagi hari sebagai pembuka harapan menuju mimpi.


Bangunlah karena mimpimu menununggu untuk diwujudkan pagi ini
Bukalah lembaran baru setelah lama terkatung bersama air mata
Izinkan cinta mekarkan putiknya bersama hujan
Karena pagi adalah bibit sejuta harapan baru

Saturday, June 20, 2020

Setelah kepergianmu


Setelah kepergianmu
 
Setelah kepergianmu
Aku seperti kembali kedunia baru
Bebas dari segala kekangan yang kau anggap sebagai bukti mencintai
Tak ada lagi beban yang menghimpit
Aku memilih tak mengekor dibelakangmu
Rupanya setelah kau kulepas, kau merasa leih bahagia
Akupun turut bahagia, saat kau menemui sang pujaanmu
Setelah kepergianmu,,
 Aku memilih tuk sendiri
Menikmati malam yang damai berteman bintang
dan dinginnya kembali menyejukkanku
Setelah layu oleh egomu, sehingga aku melangkah mundur
Setelah kepergianmu,,
Aku merasa kembali hidup
Aku kembali melihat senja tersingkap memberi warna pada langit sore
Bulir bening yang pernah sembab telah beku
Aku memilih berteman sunyi, menikmati alunan duka yang pernah menggores
Sebab perjalanan adalah pelajaran terbaik dalam hidup
Masa lalu biarlah menjadi potret kenangan yang melengkapi coretan bait baitku
Kepada masa lalu yang perih ku ucap terimaksih telah menemaniku berpetualang.

Friday, June 19, 2020

Ayah dan lelahnya


Ayah dan lelahnya
Oleh : suprianto

Cuitan burung sahut menyahut
Pak tani kembali ke gubuk tercinta
Senyum syahdu menyambut
Merona, bak senja di ufuk barat

Lelah punggung beristirahat
Rebahan adalah  nikmat tak berujung
Rayuan istri obat segala nyeri
Tawa anak pembangkit tekad

Tiada yang lebih indah selain pelangi yang berbinar dalam gubuk
Mekarnya asmara saat malam merangkak
Bintang, saksi kebahagiaan sedang menyerbak
Terbitnya syukur hadirkan riang

Ayah,,
Matamu berbinar terbitkan harapan
Di ujung doamu, air mata takkan berkhianat
Letih tubuh membakar semangat
Demi keluarga, kau berpura kuat walau badan kurang sehat

Gsg, 19.06.20

Tuesday, June 16, 2020

sore dan damainya | catatan kecilku



Kedatangan senja indah berkilau di tepi barat. Hadirnya dinantikan oleh para hati yang sedang bersedih, mungkin senja adalah tempat curahan yang paling tepat,, ah senja nan indah akan selalu hadir untuk sekedar mendengarkan keluhan penggemarnya. Kesetiaan senja tak pernah pudar, meski hujan kadang mengguyur bumi namun ia akan tetap berusaha sunggingkan senyum manisnya untuk menyapa jiwa yang sedang diguyur kepedihan. Aku kagum pada senja, yang selalu hadirkan damai. Sore sugughkan angin sepoi melambai tiupkan ketenangan. Sore adalah nikmat yang tiada habis, bnetangan pohon nan menjulang ke angkasa tak lupa hadirkan kesejukan, rumput nan hijau pelengkap keindahan meski sedang gersang ia tetap hadirkan keindahannya meskipun ia harus berubah jadi kecoklatan, tak ada alasan untuk tidak memberikan kedamaian pada pemilik hati yang sedang luka. Sore, senja, angina sepoi, rindangnya pohon dan mekarnya rerumputan adalah mereka yang senantiasa setia menjadi obat bagi hati yang sedang terluka. Aku bersyukur pada setiap hembusan nafas atas beribu nikmat yang Tuhan titipkan lewat waktu sore.
            Tak ada dusta pada setiap menu senja yang tersaji. Hamparan jingga tunaikan jujur, damai tak ada curiga padanya, kita belajar arti sebuah damai, kedamaian yang tersaji dipenhghujung sore tatkala senja menghapus luka, menyapu duka serta gundah. Yah sore yang selalu menyajikan kedamaian.
            Tak ada lagi nama yang terlukis, raut wajahmu yang kadang masih terbayang dalam angan kini telah bersih disapu angina sore nan sejuk ini, mungkin nama dan wajah itu tak langsung hilang dalam sekali kucek namun akan bersih dalam limakali bilas. Tenanglah karena ragaku tak lagi merengek-rengekkan hadirmu..  bersama senja, aku pergi. Senja membawaku kealam lain menemui dunia baruku. Bintang bintang sinari gelapku dan bulan sabit mengajariku untuk menerangkan hati walau ia sedang berkabut air mata. Aku telah berada pada titik ikhlas dimana diriku telah merelakan segala liku liku perjalananku bersamamu. Aku tak akan kembali meski suatu saat tanganmu ingin meraih punggungku.
Menikmati angin sore seperti menikmati separuh isi alam ini, padanya aku belajar bersyukur bahwa setelah perjalanan yang sungguh melelahkan sandaran paling istimewa untuk merebahkan tubuh adalah pada rumput yang selalu setia menjadi tempat rebahan. Tak ada yang lebih indah dari angin sore tatkala ia kibaskan  sayap sendunya menyambar wajah kusam penuh lara. Sekarang aku mengerti mengapa pelangi menyibakkan warna warninya setelah mentari diguyur hujan, karena bahagia itu akan terasa nikmat setelah lelah berhasil memenangi pertarungan.
Tak ada perjalanan tanpa ujian, setiap hentakan langkah akan menapaki ujian. Namun percayalah bahwa akan datang pelangi merubah segalanya jadi indah, jangan ragu dalam perjalanan kisah demi kisah yang dilalui, selain melukis kenangan juga memberikan pelajaran berharga. Karena setelah air mata lelah berderai, sore dan anginnya akan membasuhnya, senja dan dan senyumnya akan membakar semangat untuk bangkit dan berjalan lagi melupakan masa lalu yang kelam,memulai langkah baru dengan kertas baru. karena setelah awan berlalu langit kembali jadi biru. Percayalah akan datang bahagia dan kepedihan akan berlalu.

Wednesday, June 3, 2020

Permata yang Hilang


Hilangnya Permata

Sepucuk angan pernah terpatri

Mengangkasa bebas ke udara

Tak ada derai yang ada hanya hati mekar merona

Sepenggal kasih kusuguhkan dengan lapang tanpa keraguan

Melukis kisah tak bertitik di lentera cinta

Tapi sayang,, semua sirna disapu gelombag

Harapan hanyut bersama kepingan luka

Derasnya air dari lembah kelopak  mata

Permataku hilang,, gelap langkahku ke ujung sana

Taman bunga seketika layu,

Ku lambaikan tangan yang begitu sayu


            Sebuah harap pernah ku sisip di sudut hati, kelak ku genggam erat jari manisnya. Mencoba dewasakan nalar dalam hubungan itu hingga ujian demi ujian silih datang bekicau, satu demi satu ku redam walau air mata ku pendam. Kata kata yang datang kadang menusuk namun coba lerai dengan tenang perdebatan bukanlah pintu keluar. Angin bernyiur sering padamkan bara, pada akhirnya taka da kekuatan untuk bertahan. Tak selamanya cinta mengajarkan kita untuk bertahan karena pada bibit ego tak akan menumbuhkan pondasi pengertian pada pada perbedaan, semua orang memliki sikap ang berbeda hingga saling pengertian dibutuhkan dalam sebuah ikatan. Pada diriku tak ada kesempurnaan maka kupersilahkan dirimu pergi. Jika pada diriku tak kau temukan harapan beranjaklah namun jangan menyakiti. Aku mencoba berdamai, berdamai dengan diriku sendiri pada luka yang pernah tertoreh karena berdamai dengan diri sendiri adalah obat yang akan menenangkan jiwa setidaknya obat agar penyesalan  berhenti berjalan diruang imajinasi.
Aku bersyukur pada perjalanan yang mengajarkanku banyak hal tentang cinta, memberiku pengalaman yang penuh arti. Kisah yang rumit membuatku semakin tahu tentang apa yang tidak kuketahui sebelumya. Maka ku biarkan permataku pergi jauh sampai ia hilang dipelupuk mataku. Temukan bahagiamu disetiap jejak jejak langkahmu..

Gsg, 03.06.2020

Tuesday, June 2, 2020

Gerimis,, teman sepanjang jalan | cerpen



       Hari itu tepat pada hari rabu,  adalah hari yang sangat membahagiakan buat salah satu teman kami yang melangsungkan pernikahan nya…. Pagi itu baru pukul 07.15, saya masih sangat malas bangun karena jadwal ujian akhir semesterku pukul 10 siang,,,, tiba tiba HPsaya bergetar trrrrrr,,,,,,,,trrrrrrrrrr  ”halo siapa ya” kataku saya memang sontak bertanya karena setelah saya memandang layar handphone ku nomor baru yang sedang menelponku. “saya nur kamu pergi tidak ke acara pengantinnya lia”  jawab nur. Lia adalah salah satu teman kelas kami di SMA dulu yang pada hari ini melangsungkan pernikahannya, mempelai laki lakinya pun bukan orang lain dia juga adalah teman  kelas kami semenjak kenaikan kelas ke XI tepatnya di XI IPS 1. Dua tahun setelah resmi melepaskan pakaian putih abu abu, saya baru mendengar mereka berdua dirajut asmara dan menjalin hubungan sampai akhirnya resmi menikah, rasanya sangat bahagia satu persatu teman kelas kami dipertemukan jodohnya. Setelah menikmati hidangan pesta pernikahan dan ngobrol ngobrol dengan mempelai laki laki, saya pun pamit. “gerimis nih gak tunggu reda dulu hujannya” ucapnya khawatir. “gak apa apa lagian Cuma gerimis” responku meyakinkan. setelah memastikan bahwa tidak akan hujan deras dan sekilas melirik layar handphone ku, jam menunjukkan pukul 17.20 menit. “Kemalaman dijalan nih” bisikku dalam hati, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke kos saya di enrekang kota. Diluar perkiraan setelah sinar mentari mulai menutup sinarnya, dan di sambut malam hujanpun myulai deras tangan mulai terasa kram menggenggam stir motor. Jalan yang agak sunyi mulai mengantarku pada pada lorong masa laluku, ditengah dinginnya cuaca malam plus hujan badanku justru merasa panas dan hatiku seakan remuk. Teringat kembali tentang masa silam masa masa yang penuh luka kala itu tak bisa ku perkirakan kenapa hal itu hinggap pada diriku. Kisah asmara yang sangat menyayat. Pada hakikatnya kita tak bisa menenbak rahasia sebuah cinta, kita hanya mengikuti perasaan pada hati siapa ia akan berlabuh dan sampai kapan ia akan betah sebelum akhirnya harus berakhir pada kenyataan yak tak di inginkan yaitu jebolnya kelopak mata yang tak sanggup menahan mutiara hangat akibat sayatan luka pada hati yang semestinya berharap bahagia, apaalah daya cinta itu seperti air mengalir kita hanya menurut sampai akhirnya menghinggapi hati yang benar benar memiliki ketulusan yang sama. Tak terasa perjalanan kurang lebih satu jam sambil menikmati kenangan pahit, dinginnya malam dan butiran air hujan, sesampainya dienrekang saya langsung menuju kos teman tempat untuk mengembalikan sepatu yang tadinya saya pinjam keacara pengantin. “Assalamu alaikum Enra wooeeee bangun sudah pagi” ucapku bercanda sambil mengetuk pintu, saya memang selalu mencandainya kalau saya kekosnya karena kadang dia tidur pas saya datang.  Nih sepatumu” kataku lagi. “eh kamu dah pulang!! taruh aja ditempatnya” jawabnya kemudian saya menaruh sepatunya dirak sepatu. “masuk dulu ntar kubuatkan kopi” sambungnya sambil ketawa, dia memang teman kelas saya yang paling dekat dengan saya, hampir setiap malam kami bergantian saling mengunjungi, “saya langsung pulang aja udah basah udah dingin juga” balasku langsung pulang. Setelah sampai di kos, saya langsung mengganti pakaian saya dan entah kenapa dipikiranku tiba tiba ingin menulis diari sebagai obat kesedihanku
Aku tak tahu kenapa aku harus tertimpa rasa sakit sepert ini kala aku mencintainya namun berbagai sandiwara harus terjadi dalam hubungan, kisah cintaku ini memang memeberikan luka yang sangat perih, kenapa tidak? Oramg yang begitu amat disayangi, kita harus berpisah. Mungkin ini adalah jawaban bahwa hubungan ni tak seharusnya dilanjutkan karena dalam setiap perjalanan akanselalau ada petunjuk, namun perpisahan adalah sebuah hal yang sangat identik dengan kesedihan, sakit hati, dan bahkan air mata, bukankah begitu?? walau wajahmu masih sering terbayang dan pada setiap mengingatmu setiap itu pula air mata akan tumpah dari kelopak tapi bukan berarti aku akan erus berada dalam kebodohan ini, aku harus bangkit. Dan ehilanganmu adalah sebuah fase awal untuk memperbaiki diri. Dan kau temukanlah orang yang kamu masih cinta dan kita tak pernah saling kenal lagi. Berbahagialah bersamanya.